Table of contents [Show]
KARYA PENTING
[caption id="attachment_15349" align="alignright" width="225"]
Firmansyah, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta[/caption]
Sedikitnya 100 undangan yang terdiri dari Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), arsiparis, budayawan, akademisi, wartawan, peneliti, dan mahasiswa memenuhi aula gedung 1 FIB UI.
Buku tersebut memberikan gambaran sejarah lokal khususnya dinamika kehidupan masyarakat Batavia dan sekitarnya. Kehadiran buku ini menambah referensi sejarah lokal khususnya mengenai dinamika sosial luar Batavia atau Ommelanden.
Bagi Dinas Pusip DKI Jakarta, buku ini adalah karya penting bagi generasi muda untuk lebih mengenal sejarah kota Jakarta dan menjadi inspirasi bahwa penelitian berangkat dari sumber-sumber data yang berada dekat dari kita seperti arsip yang berada di ANRI. "Bagi Dinas Pusip ini karya penting," kata Firmansyah.
Buku ini, dalam pandangan Bang Firman, begitu panggilan akrabnya, akan jadi inspirasi buat generasi masa kini dan masa depan sebagai bahan bacaan sejarah kota Jakarta dari kurun waktu tahun 1600. Bagaimana tentang kehidupan masyarakat dan ekonomi tembok Batavia. "Generasi muda perlu membaca buku ini supaya tahu sejarahnya kota Jakarta. Mereka tahu saat ini di Jakarta banyak bangunan,” ujarnya pria gemar berolah raga itu dengan logat Betawi yang kental.
Bang Firman kagum terhadap buku ini karena berangkat dari penelitian dan karya ilmiah yang bersumber dan mengangkat isu dari arsip. Buku ini dapat menjadi inspirasi. “Ini data otentik yang narasinya bersumber dari arsip nasional, jadi tidak sembarangan menulis,” ucap Firman seperti dikutip beritajakarta.id.
BAHASA BELANDA DAN PALEOGRAFI
[caption id="attachment_15350" align="alignleft" width="300"]
Yahya Andi Saputra dan Jeffry Alkatiri, dua anak Betawi dalam peluncuran buku Bondan[/caption]
Bondan menjelaskan bahwa ia telah mempelajari bahasa Belanda dan Paleografi (ilmu mempelajari tulisan tangan) guna membaca dan merangkai informasi dari kumpulan arsip mengenai Batavia pada abad ke-17 di Arsip Nasional Republik Indonesia hingga Rijk Museum di Belanda selama 11 tahun.
Bondan menyusun kembali disertasinya untuk diterbitkan sebagai buku Ommelanden yang diluncurkan pada acara ini.
“Sumber utama saya adalah dokumen dan arsip, tidak ada sumber berupa lisan atau wawancara karena memang ini periode yang sudah terjadi ratusan tahun lalu," kata dosen bergelar doktor tersebut.
Bondan bertumpu pada dokumen, peta, dan lukisan litografi untuk merekonstruksi kehidupan masyarakat di Ommelanden karena karakter pada jaman itu tidak memungkinkan untuk adanya sumber-sumber yang lain.
Ommelanden, katanya, merupakan tempat di mana Jakarta mendapat segala dukungan berupa sumber daya manusia, bahan-bahan mentah, dan juga berbagai keperluan industri. Ommelanden atau wilayah Jabodetabek memiliki peran sangat krusial dalam mendukung pengembangan Batavia atau kota Jakarta dulu dan sekarang.
BELAJAR DARI KEGAGALAN
[caption id="attachment_15351" align="alignleft" width="300"]
Lahyanto Nadie, Bondan, Firmansyah, Yahya Andi Saputra[/caption]
Dia berharap Jakarta menjadi kota yang lebih bersahabat kepada para pemukimnya, karena kalau jika dilihat sejarah kota Jakarta sebetulnya upaya-upaya menjadikan Jakarta kota yang hijau dan nyaman sudah dilakukan secara berkelanjutan.
Tentu saja pembaca mengambil pelajaran yang didapat tentang kegagalan dan keberhasilan yang terjadi sepanjang abad 17-18. "Mudah-mudahan para pengambil keputusan dan masyarakat bisa mendapat inspirasi apa yang harus mereka lakukan untuk memperbaiki kehidupan di kota Jakarta,” tandas Bondan.
WAWASAN LUAS DAN BECANDA
[caption id="attachment_15347" align="alignright" width="300"]
Firmansyah dan Aminullah[/caption]
Bang Firman adalah anak Betawi yang bewawasan luas, suka humor, banyak pengalaman, dan paling banyak pengalaman jabatan. Pria yang lulusan dari Unversitas Negeri Jakarta tersebut mulai menjabat dari Biro Umum, Dinas Olah Raga, Sekretaris Dewan Pewakilan Rakyat Daerah (DPRD) hingga ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.
Sejak dipimpin oleh Bang Firman, Perpustakaan Jakarta terus berbenah diri. Transformasi yang dilakukan sejak Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (2017-2022) mulai dari pembangunan gedung, kunjungan, program, hingga koleksi terus dilengkapi. "Saya betah di Perpustakaan Jakarta karena memang suasananya nyaman dan lokasinya sangat strategis," kata Annasa, lulusan Fakultas Biologi Universitas Padjadjaran Bandung.
[caption id="attachment_15352" align="alignright" width="300"]
Firmansyah sering berdiskusi dengan para intelektual muda setelah jam kerja hingga larut malam[/caption]
Koleksi buku terus ditambah sehingga pengunjung kian hari makin meningkat. Setiap bulan puluhan ribu peminat literasi mengunjungi Perpustakaan Jakarta yang berlokasi di Taman Ismail Marzuki, Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.
Selain itu ia juga terus berkolaborasi dengan penerbit dan pemangku kepentingan lainnya. Program kegiatan juga terus dikembangkan.