Vale Indonesia menambang nikel laterit untuk menghasilkan nikel matte. Vale saat ini fokus membangun dua fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel di Bahodopi di Sulawesi Tengah dan Pomalaa di Sulawesi Tenggara. Ditargetkan dua proyek tersebut bisa selesai pada September mendatang.
Sementara itu, emiten pengolah nikel lainnya, PT Harum Energy Tbk, membukukan laba bersih 150,6 juta dollar AS hingga enam bulan pertama 2023. Laba tersebut naik tipis 3 persen dari 146 juta dollar AS pada semester pertama 2022.
Walaupun banyak menjual batubara, Harum Energy berencana meningkatkan pendapatan dari lini bisnis nikel. Manajemen menargetkan, kontribusi pendapatan dari bisnis nikel dapat melebihi separuh dari total perolehan laba bersih konsolidasi dalam 2-3 tahun ke depan. Melalui entitas tidak langsung, Harum mulai menambang dan mengolah bijih nikel di Weda Bay, Halmahera Timur.Di tengah emiten yang membukukan kenaikan laba, ada juga emiten yang membukukan penurunan laba. PT Trimegah Bangun Persada Tbk membukukan kenaikan pendapatan signifikan pada semester pertama 2023, sebesar 88,7 persen.
Pendapatan naik pesat dari Rp 5,43 triliun pada semester I-2022 menjadi Rp 20,24 triliun pada semester I-2023. Pendapatan ini ditopang oleh pengolahan nikel Rp 8,58 triliun dan penambangan nikel Rp 1,65 triliun.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan melonjak 177,4 persen dari periode yang sama tahun 2022 dari Rp 2,43 triliun menjadi Rp 6,74 triliun di semester pertama 2023. Laba bruto masih meningkat 16,8 persen dari Rp 2,99 triliun menjadi Rp 3,49 triliun pada paruh pertama 2023. Adapun laba bersih turun 15 persen dari Rp 3,21 triliun pada enam bulan pertama 2022 menjadi Rp 2,74 triliun hingga akhir Juni 2023.
Trimegah mengoperasikan dua proyek pertambangan nikel laterit aktif seluas 4.247 hektar di Kawasi dan 1.276 hektar di Loji. Kedua tambang tersebut terletak di Pulau Obi, Maluku Utara.
Emiten nikel lain, PT Central Omega Resources Tbk, membukukan kinerja yang kurang memuaskan pada pertengahan tahun ini. Laba bersih turun 30,3 persen dari Rp 60,77 miliar menjadi Rp 42,31 miliar.
Penurunan ini seiring dengan penurunan pendapatan sebesar 20 persen dari Rp 335 miliar menjadi Rp 267 miliar. Melalui anak usahanya, Central Omega telah membangun fasilitas pemurnian bijih nikel dengan kadar tinggi di Morowali Utara.