Pemerintah India menyiapkan insentif senilai US$1,2 miliar untuk mendorong produksi alat konstruksi dan infrastruktur berteknologi tinggi di dalam negeri. Program selama tujuh tahun itu ditargetkan menarik investasi baru US$1,8 miliar sekaligus mengurangi ketergantungan India terhadap mesin impor, terutama dari Tiongkok.INDOWORK.ID, JAKARTA: Program tersebut belum memperoleh persetujuan akhir. Reuters melaporkan pada 21 Agustus 2026 bahwa pemerintah India sedang memfinalisasi rancangan insentif berdasarkan keterangan dua sumber pemerintahan. Kementerian Industri Berat dan Kementerian Keuangan India belum memberikan tanggapan resmi ketika laporan itu diterbitkan. Karena itu, nilai insentif, jangka waktu, sasaran investasi, dan ketentuan penerima masih berstatus rencana. Jika disetujui, program tersebut akan menyasar produksi mesin bor terowongan atau tunnel boring machine (TBM), peralatan pemadam kebakaran, serta elevator untuk gedung bertingkat tinggi. Pemerintah India juga akan menetapkan target nilai tambah lokal bagi mesin yang saat ini sebagian besar atau seluruhnya masih diimpor. Rancangan insentif disusun setelah pemerintah India menilai kebutuhan dukungan fiskal agar produksi lokal mampu bersaing dengan mesin impor. Produksi alat konstruksi berteknologi tinggi memerlukan investasi besar dalam penelitian, desain, rekayasa, fasilitas produksi, pengujian, sertifikasi, dan pengembangan tenaga kerja. Produsen lokal juga harus mencapai skala produksi tertentu agar biaya per unit dapat bersaing. Masalahnya, permintaan mesin khusus seperti TBM tidak selalu stabil. Alat tersebut dibutuhkan untuk proyek terowongan jalan, jaringan kereta bawah tanah, kereta cepat, saluran air, dan infrastruktur bawah tanah lainnya. Jumlah proyek yang terbatas dapat membuat produsen kesulitan mencapai skala ekonomi. Insentif pemerintah diharapkan mengurangi kesenjangan biaya antara produk lokal dan mesin impor. Selain mendorong investasi baru, kebijakan itu diarahkan untuk meningkatkan kandungan lokal pada alat yang dinilai strategis bagi pembangunan infrastruktur. Namun, efektivitas program akan bergantung pada desain insentif. Pemerintah perlu memastikan dukungan tidak hanya mendorong perakitan akhir, tetapi juga memperkuat industri komponen, rekayasa, perangkat kendali, layanan teknis, dan kemampuan perawatan. Sejumlah produsen diperkirakan memperoleh manfaat apabila program tersebut disetujui. Salah satunya adalah perusahaan milik negara BEML yang berencana memproduksi mesin bor terowongan di India. Perusahaan teknik dan konstruksi Larsen & Toubro serta produsen elevator Johnson Lifts juga disebut sebagai calon penerima manfaat. Namun, daftar perusahaan, jenis produk, persyaratan investasi, dan besaran insentif belum ditetapkan secara resmi. Pemerintah India diperkirakan menerapkan persyaratan nilai tambah lokal. Pendekatan tersebut berarti insentif tidak cukup diberikan berdasarkan jumlah mesin yang dirakit, tetapi juga mempertimbangkan bagian produksi yang benar-benar dikerjakan di dalam negeri. Nilai tambah lokal dapat mencakup pembuatan struktur mesin, komponen mekanis, sistem penggerak, perangkat elektronik, perangkat lunak, kegiatan rekayasa, hingga layanan purnajual. Persyaratan itu diperlukan untuk mencegah produsen hanya mengimpor mesin dalam bentuk terurai dan merakitnya di India. Tanpa pendalaman rantai pasok, ketergantungan impor dapat berpindah dari mesin utuh menjadi komponen bernilai tinggi.
- Fri, Nov 2026
India Siapkan Insentif US$1,2 Miliar untuk Produksi Alat Konstruksi
17 Sep, 2026
26 mins read
3 views
Related posts
Follow us
Categories
- Headline (6596)
- Bisnis (3145)
- INFRASTRUKTUR (2674)
- Humaniora (1943)
- Lainnya (1071)
Lastest Post
L
Your experience on this site will be improved by allowing cookies
Cookie Policy