INDOWORK.ID, JAKARTA: Sebagai objek investasi, ada beberapa fakta penting terkait emas.
Pertama, karena emas dihargai dalam USD, maka kenaikan kurs USD akan menurunkan harga emas. Naiknya indeks USD - DXY - sejak September, telah menurunkan harga emas sekitar 14%.
Kedua, emas adalah non-yielding asset. Naiknya tingkat bunga dan yield obligasi berdampak negatif terhadap harga emas.
Ketiga, harga yang sering kita lihat di media, adalah harga indikasi. Walaupun semua transaksi emas akan merujuk pada harga itu. Tiga pasar emas terbesar adalah OTC London (spot), kontrak berjangka COMEX dan Shanghai Gold Exchange. Alokasi pemanafaatan emas sendiri belum banyak bergeser: 50% untuk perhiasan, 40% untuk investasi dan 10% untuk industri
Tujuh produsen emas terbesar dunia, secara berurutan adalah China, Australia, Amerika Serikat, Afrika Selatan, Rusia, Peru, dan Indonesia. Sementara konsumen terbesar adalah India, China, Amerika Serikat, dan Turki.
Mari kita simak dulu beberapa statistik berikut:
Di awal pemerintahan Trump, indeks dolar, DXY, - harga USD dalam sekeranjang mata uang utama dunia, - masih berada di angka 89. Pada 27 September lalu, mencapai rekor tertinggi di 114.78 USD menguat 29% selama 5 tahun. Selasa 27 Desember 2022, siang, indeks USD berada di angka 104.06. Turun lebih dari 9% dari posisi tertingginya September lalu.
Bersamaan dengan turunnya DXY, harga emas sudah naik dari USD 1,645.23, per troy ounce, pada 11 September lalu, menjadi USD 1,805.84 pada Selasa, 27 Desember 2022.
- Sat, Jul 2026
Follow us
Lastest Post
L
Your experience on this site will be improved by allowing cookies
Cookie Policy