INDOWORK.ID, JAKARTA: Wajar kalau saham yang satu ini tidak menarik bagi para pedagang. Harganya tidak kemana-mana. Selama 3 bulan terakhir, hanya bergerak dalam rentang 270- 298. Selama 52 minggu terkahir bergerak dalam rentang 250 - 306.
Likuiditasnya tipis, volume, dan nilai transaksi kecil, sering hanya dalam hitungan jutaan rupiah saja. Inflows (asing) hampir tak ada. Selama setahun terakhir hanya tercatat net buy Rp514 juta. Nilai kapitalisasi - apalagi free float - terlalu kecil bagi manajer dana asing.
Saham PT Jasa Armada Indonesia (IPCM). Saya sejak awal menyebutnya sebagai saham tukang parkir. Karena jasa utamanya memang membantu perparkiran - masuk keluar - kapal dengan aman di dermaga. Jasa tunda dan pandu. Salah satu saham yang paling banyak saya celotehi. Saat ini merupakan saham yang jumlah lot nya paling besar dalam portfolio saya.
Mungkin karena saya risk-averter sejati. Risk-averter, konon ada gradasinya juga. Yang penakut, yang lebih penakut dan paling penakut. Boleh jadi saya masuk golongan paling belakangan. Tidak bisa dipungkiri bahwa jumlah dana yang dimiliki mempengaruhi tingkat averter seorang investor. Tidak bisa dipungkiri, semakin tua seorang investor, akan semakin berhati-hati dalam mengelola risiko.
Sumber: IPCM[/caption]
Walaupun harganya nggak kemana-mana, uang tunggunya memadai. Dividen tahun terakhir - interim dan final - Rp 17,74 per saham. Pada harga penutupan minggu lalu - Rp 282 - imbal hasilnya 7,6%. Dua kali bunga deposito. Pay out ratio-nya relatif stabil. Laba bersihnya meningkat seinci-demi seinci dari tahun ke tahun.
Dalam penerawangan saya, volume penjualan jasa perusahaan ini akan bertumbuh dengan pelan tapi pasti. Jangan berharap pertumbuhan double digit pada top and bottom line perusahaan. Tapi saya juga tidak melihat peluang volume bisnisnya akan mengalami penurunan. Memang bottom line-nya akan terpengaruh signifikan oleh harga energi. Bahan bakar merupakan 40% biaya operasi.
KARAKTER IPCM
[caption id="attachment_11760" align="alignright" width="299"]
Sumber: IPCM[/caption]
Walaupun harganya nggak kemana-mana, uang tunggunya memadai. Dividen tahun terakhir - interim dan final - Rp 17,74 per saham. Pada harga penutupan minggu lalu - Rp 282 - imbal hasilnya 7,6%. Dua kali bunga deposito. Pay out ratio-nya relatif stabil. Laba bersihnya meningkat seinci-demi seinci dari tahun ke tahun.
Dalam penerawangan saya, volume penjualan jasa perusahaan ini akan bertumbuh dengan pelan tapi pasti. Jangan berharap pertumbuhan double digit pada top and bottom line perusahaan. Tapi saya juga tidak melihat peluang volume bisnisnya akan mengalami penurunan. Memang bottom line-nya akan terpengaruh signifikan oleh harga energi. Bahan bakar merupakan 40% biaya operasi.