INDOWORK.ID, JAKARTA: Prospek harga logam industri diproyeksi masih akan melemah tahun ini seiring dengan perlambatan ekonomi di negara-negara utama seperti China dan sejumlah kebijakan tarif agresif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan gangguan dalam kegiatan pertambangan, ketidakstabilan politik di wilayah yang kaya akan logam, dan peningkatan tarif impor baja dan aluminium menjadi 25% tanpa pengecualian telah menciptakan ketidakpastian global dan meningkatkan biaya produksi.
Dari sisi permintaan, kalau melihat dari tren peningkatan produksi kendaraan listrik saat ini, permintaan akan logam seperti litium dan kobalt akan meningkat.
"Jadi secara demand, dorongan global untuk sumber energi terbarukan berdampak terhadap peningkatan permintaan logam seperti tembaga dan unsur lainnya." ujar Sutopo.
Investasi industri dan infrastruktur yang kuat di Tiongkok diharapkan dapat mendukung permintaan logam seperti tembaga, timah, dan nikel.
- Fri, Jul 2026
Follow us
Lastest Post
L
Your experience on this site will be improved by allowing cookies
Cookie Policy