Evolution Mining mulai mengoperasikan alat hibrida dan mesin bor bertenaga baterai untuk menekan emisi pertambangan. Namun, perusahaan menilai elektrifikasi armada tambang skala besar masih menghadapi kendala kesiapan teknologi, penerapan di lapangan, dan kelayakan komersial.INDOWORK.ID, JAKARTA: Dalam Laporan Iklim Tahun Buku 2026, Evolution Mining yaitu perusahaan tambang emas dan tembaga asal Australia, menyebut teknologi kendaraan listrik berbasis baterai memiliki potensi besar. Namun, teknologi tersebut belum sepenuhnya mampu menggantikan armada bermesin diesel pada seluruh kegiatan tambang. Tantangannya tidak hanya terletak pada ketersediaan mesin. Perusahaan harus mempertimbangkan kemampuan alat beroperasi dalam waktu panjang, kondisi tambang, fasilitas pengisian daya, keamanan pasokan listrik, produktivitas, dan biaya kepemilikan sepanjang umur alat. Evolution Mining memperkirakan penerapan bahan bakar rendah emisi dan elektrifikasi armada akan meningkat setelah 2030. Namun, perkiraan tersebut merupakan bagian dari peta jalan transisi perusahaan, bukan kepastian mengenai waktu konversi armada. Evolution Mining melaporkan emisi Scope 1 dan Scope 2 berdasarkan metode pasar mencapai 741.336 ton setara karbon dioksida atau tCO2-e pada tahun buku yang berakhir 30 Juni 2026. Angka tersebut terdiri atas emisi Scope 1 sebesar 244.524 tCO2-e dan Scope 2 sebesar 496.812 tCO2-e. Emisi gabungan itu turun sekitar 19% dibandingkan dengan tahun dasar 2020 yang mencapai 919.167 tCO2-e. Capaian tersebut mendekati target perusahaan untuk menurunkan emisi Scope 1 dan Scope 2 sebesar 30% pada 2030 dibandingkan dengan posisi 2020. Dalam jangka panjang, Evolution Mining menargetkan emisi nol bersih untuk kedua cakupan tersebut pada 2050. Namun, penghitungan emisi berdasarkan lokasi menunjukkan angka lebih tinggi. Total emisi Scope 1 dan Scope 2 berbasis lokasi pada 2026 mencapai 895.498 tCO2-e. Perbedaan tersebut menunjukkan besarnya pengaruh kontrak listrik terbarukan dan sertifikat energi bersih dalam penghitungan emisi berbasis pasar. Perusahaan mengingatkan bahwa laporan 2026 merupakan tahun pertama penerapan standar pengungkapan iklim AASB S2. Informasi historis dan sejumlah data sukarela juga tidak seluruhnya masuk dalam cakupan penjaminan independen. Sekitar 70% emisi gabungan Scope 1 dan Scope 2 Evolution Mining berasal dari Scope 2 atau emisi tidak langsung dari energi yang dibeli perusahaan. Karena itu, pengadaan listrik terbarukan ditempatkan sebagai prioritas utama dalam strategi dekarbonisasi. Strategi tersebut memperlihatkan bahwa penurunan emisi pertambangan tidak cukup hanya mengandalkan pergantian alat berbahan bakar diesel dengan alat listrik. Sumber energi yang digunakan untuk mengisi baterai juga menentukan besarnya penurunan emisi. Evolution Mining telah memiliki perjanjian pembelian tenaga listrik atau power purchase agreement untuk tambang Cowal dan Northparkes. Kedua perjanjian itu masing-masing ditargetkan mendukung penggunaan energi terbarukan hingga 70% pada 2030. Perusahaan juga mengevaluasi peluang pengadaan energi rendah emisi untuk operasi Mungari dan Ernest Henry. Pilihannya meliputi tenaga angin, surya, bahan bakar nabati, hidrogen hijau, dan teknologi penyimpanan energi. Namun, proyek yang masih dikaji tersebut belum seluruhnya melewati studi kelayakan dan keputusan investasi. Dengan demikian, kontribusinya terhadap penurunan emisi pada masa mendatang masih berupa estimasi.
- Fri, Nov 2026
Evolution Mining: Elektrifikasi Armada Tambang Masih Terganjal Kesiapan Teknologi
29 Aug, 2026
25 mins read
1 views
Related posts
India Siapkan Insentif US$1,2 Miliar untuk Produksi Alat Konstruksi
17 Sep, 2026
26 mins read
3 views
Follow us
Categories
- Headline (6596)
- Bisnis (3145)
- INFRASTRUKTUR (2674)
- Humaniora (1943)
- Lainnya (1071)
Lastest Post
L
Your experience on this site will be improved by allowing cookies
Cookie Policy