INDOWORK.ID, JAKARTA: Mengguyur devisa untuk menahan penurunan rupiah ibarat menggarami lautan. Capek, mahal, dan hasilnya sementara. Saya sudah berulangkali menyatakan itu.
Moneter ketat memang lebih menggigit. Naikkan suku bunga, rupiah bisa tertahan. Tapi dampaknya langsung ke dunia usaha, KPR, dan beban utang pemerintah. Menyakitkan.
Lalu di mana solusi sesungguhnya? Pada perbaikan disiplin fiskal. Meski dampaknya baru terlihat dalam jangka panjang.
Kita bisa belajar dari Jepang. USD/JPY sudah menembus 160. Bank of Japan dan AS sempat intervensi gabungan. Yen sempat naik ke 155, lalu kembali ke 160 seminggu kemudian. Sia-sia.
BOJ sudah menaikkan bunga acuan ke 1%. Tertinggi dalam 3 dekade, naik dari era bunga negatif. Tapi dengan inflasi Juni 3,3% yoy, bunga riil yen masih negatif.
Menaikkan bunga lebih tinggi sangat berisiko. Utang Jepang ke PDB di atas 200%. Mereka impor 90% minyak. Defisit transaksi berjalan mengintai. Ditambah agenda PM Sanae Takaichi yang ekspansif.
Jika bunga dipertahankan di 1%, spread dengan USD tetap lebar. Yen carry trade subur. Investor pinjam yen murah, konversi ke dolar. Saat geopolitik memanas, arus keluar makin deras karena USD masih jadi safe haven.
Jepang terjebak. Naik cepat sakit. Diam juga berdarah.
- Fri, Nov 2026
Menggarami Lautan: Intervensi Tak Cukup Tanpa Disiplin Fiskal
18 Aug, 2026
9 mins read
1 views
Related posts
India Siapkan Insentif US$1,2 Miliar untuk Produksi Alat Konstruksi
17 Sep, 2026
26 mins read
3 views
Follow us
Categories
- Headline (6596)
- Bisnis (3145)
- INFRASTRUKTUR (2674)
- Humaniora (1943)
- Lainnya (1071)
Lastest Post
L
Your experience on this site will be improved by allowing cookies
Cookie Policy