INDOWORK.ID, JAKARTA: Saya seperti tercekik. Sulit bernapas mendengarkan paparan Prof. Susi Sudarman, dosen senior Universitas Indonesia. Ia bercerita datar. Tenang. Bahkan nyaris tanpa emosi berlebihan. Tetapi justru di situlah letak kedahsyatannya.
Karena yang ia ceritakan bukan sekadar konflik kampus. Bukan sekadar soal statuta universitas.
Bukan sekadar tarik-menarik kekuasaan akademik. Yang ia ceritakan adalah ledakan besar tentang bagaimana sebuah bangsa perlahan kehilangan benteng terakhir akal sehatnya. Dan itu terjadi di zaman Joko Widodo.
Bayangkan… Kampus sebesar UI — simbol intelektualitas Indonesia, kampus yang melahirkan begitu banyak pemikir, teknokrat, ekonom, ilmuwan, aktivis, bahkan penggerak reformasi — menurut beliau perlahan dibuat tunduk pada kekuasaan. Bukan lagi menjadi penjaga moral bangsa.
Tetapi mulai diarahkan menjadi bagian dari orkestrasi kekuasaan. Prof. Susi bahkan menyebut hal yang sangat menggetarkan:
bahwa di tubuh MWA UI ada orang-orang yang menurut ia tidak sejalan dengan cita-cita kemerdekaan bangsa. Bahkan ia menyebut adanya ruang bagi penyusupan narasi dan pembicara-pembicara beraroma Zionis ke lingkungan kampus.
Terlepas orang setuju atau tidak dengan pendapat beliau, satu hal yang sulit dibantah: ada kegelisahan besar sedang terjadi di dunia kampus kita. Dan kegelisahan itu nyata. Karena yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar siapa rektor.
Bukan sekadar siapa ketua MWA. Tetapi arah peradaban bangsa ini.
Universitas seharusnya menjadi tempat paling merdeka untuk berpikir. Tempat anak-anak muda diajarkan keberanian mempertanyakan ketidakadilan. Tempat dosen dan profesor berdiri tegak menjaga moralitas ilmu pengetahuan.
Tempat lahirnya inovasi, keberanian intelektual, dan kejujuran akademik.
PENYUSUPAN ZIONIS
Tetapi mulai diarahkan menjadi bagian dari orkestrasi kekuasaan. Prof. Susi bahkan menyebut hal yang sangat menggetarkan:
bahwa di tubuh MWA UI ada orang-orang yang menurut ia tidak sejalan dengan cita-cita kemerdekaan bangsa. Bahkan ia menyebut adanya ruang bagi penyusupan narasi dan pembicara-pembicara beraroma Zionis ke lingkungan kampus.
Terlepas orang setuju atau tidak dengan pendapat beliau, satu hal yang sulit dibantah: ada kegelisahan besar sedang terjadi di dunia kampus kita. Dan kegelisahan itu nyata. Karena yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar siapa rektor.
Bukan sekadar siapa ketua MWA. Tetapi arah peradaban bangsa ini.
Universitas seharusnya menjadi tempat paling merdeka untuk berpikir. Tempat anak-anak muda diajarkan keberanian mempertanyakan ketidakadilan. Tempat dosen dan profesor berdiri tegak menjaga moralitas ilmu pengetahuan.
Tempat lahirnya inovasi, keberanian intelektual, dan kejujuran akademik.