• Fri, Nov 2026

Pelaku usaha komponen nasional mengintip berbagai peluang demi mengerek kinerja di tengah risiko pasar otomotif pada tahun ini. Salah satu langkah yang ditempuh produsen komponen adalah menempuh diversifikasi bisnis. Ketua Umum Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Hamdani Dzulkarnaen Salim menyampaikan, tidak menutup kemungkinan para produsen komponen mulai mendiversifikasi bisnis, seperti mengembangkan komponen kendaraan listrik, baik roda empat atau roda dua. Apalagi, pasar kendaraan listrik di Indonesia mulai tumbuh seiring kehadiran berbagai merek dan model baru dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, upaya diversifikasi juga bisa berupa pengembangan komponen untuk produk non- otomotif. "Semua bergantung supply-demand, jika permintaan (komponen kendaraan listrik) naik, pasti banyak yang berusaha menyuplainya," ungkap dia, Selasa (4/3). Baca Juga: Begini Prospek Bisnis Komponen Otomotif Nasional pada 2025 Upaya diversifikasi ini dilakukan seiring pasar perkembangan pasar otomotif nasional yang masih rentan pada 2025 akibat ketidakpastian ekonomi. Hamdani menyebut, tren penjualan komponen otomotif di segmen original equipment manufacturer (OEM) diperkirakan tak jauh berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Ini mengingat proyeksi penjualan mobil nasional dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) hanya di level 900.000 unit pada 2025. Angka tersebut tidak terpaut jauh dibandingkan realisasi penjualan mobil nasional pada tahun 2024 yakni 865.723 unit (kategori wholesales). Dengan begitu, potensi pertumbuhan permintaan komponen untuk kendaraan roda empat baru relatif lebih terbatas. Suku cadang Sebaliknya, para produsen komponen berpotensi memaksimalkan cuan dari penjualan produk di segmen aftermarket. Sebab, kebutuhan komponen atau suku cadang pengganti tergolong besar dan pasarnya selalu ada, terlepas dari dinamika kondisi ekonomi nasional. "Pasar aftermarket dipengaruhi jumlah unit kendaraan yang beroperasi," ujar Hamdani. Di sisi lain, GIAMM menyoroti tren pelemahan kurs rupiah hingga kini. Ketidakpastian ini tentu memberatkan pabrikan komponen yang harus mengimpor kebutuhan sebagian bahan bakunya. Alhasil, para produsen komponen harus melakukan berbagai upaya penghematan dan pengurangan biaya. "Kenaikan harga produk adalah pilihan terakhir," kata Hamdani. Salah satu emiten produsen komponen, PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) optimistis dengan prospek bisnisnya pada 2025. AUTO dipastikan kembali memacu strategi diversifikasi yang sudah bergulir beberapa tahun terakhir. Diversifikasi ini menyasar penjualan alat kesehatan, komponen alat berat, industrial dan kereta api. "Kami juga akan terus mengembangkan produk baru, baik untuk sektor otomotif maupun non-otomotif," imbuh Sophie Handili, Direktur AUTO, Selasa (4/3). KONTAN mencatat, AUTO menempuh diversifikasi dengan mengembangkan komponen kendaraan hibrida dan listrik. Contohnya wheel disc, driveshaft, resonator intake air, auxiliary battery dan front axie. Ada pula komponen spesifik kendaraan listrik yang diproduksi AUTO seperti hose cooling inverter & motor, HV battery intake duct, hybrid damper, battery case dan battery box.